Batanghari — Tim dosen Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jambi melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pelestarian Lacak sebagai Warisan Budaya Melayu Jambi” di Desa Teluk, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, pada Sabtu, 4 Oktober 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Universitas Jambi dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat (PPM) yang berorientasi pada pelestarian budaya daerah, penguatan pendidikan karakter, serta peningkatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Tim pengabdian ini diketuai oleh Fatonah, S.S., M.I.Kom., dengan anggota dosen: Padhil Hudaya, S.Pd., M.A., Denny Defrianti, S.Sos., M.Pd., Abdurrahman, S.Pd., M.A., Wulan Resiyani, S.S., M.A., dan Isrina Siregar, S.Pd., M.Pd.

Dalam pelaksanaan kegiatan, tim PPM menggandeng Budayawan Datuk Zainul Bahri sebagai mitra utama. Selain dikenal sebagai budayawan, Datuk Zainul juga merupakan pelaku industri kreatif berbasis kearifan lokal. Ia merupakan pemilik Rumah Tenun dan Sanggar Batik Bahri, serta pencipta 38 model motif Lacak kreasi yang diberi nama sesuai tokoh-tokoh penting sejarah Jambi, mulai dari pahlawan lokal hingga raja pertama Jambi, Orang Kayo Hitam.
Ketua tim pengabdian, Fatonah, menyampaikan bahwa keterlibatan Datuk Zainul Bahri merupakan langkah penting dalam upaya pelestarian budaya Melayu Jambi.
“Melihat rekam jejak dan dedikasi Datuk Bahri terhadap pelestarian budaya Melayu Jambi, sudah selayaknya kami menggandeng beliau. Kehadiran beliau sebagai ahli lacak diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih luas kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar semakin mengenal dan mencintai budaya Melayu Jambi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Fatonah menjelaskan bahwa kegiatan pengabdian ini diawali dengan pembuatan video tutorial pembuatan lacak yang dipandu langsung oleh Datuk Zainul Bahri.
Puncak kegiatan dilaksanakan pada 4 Oktober 2025 dalam bentuk workshop dan pelatihan praktik pembuatan lacak dari kertas kado, yang diikuti oleh siswa SD hingga SMA serta pemuda-pemudi Desa Teluk.
“Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar dan disambut antusias oleh peserta,” tambahnya.
Kepala Desa Teluk turut memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Kami sangat berterima kasih kepada Universitas Jambi, khususnya tim PPM dosen-dosen sejarah yang diketuai Ibu Fatonah. Kegiatan ini sangat bermanfaat, apalagi desa kami merupakan desa binaan dan wisata agro yang rutin menggelar Festival Durian. Keberadaan lacak ini akan sangat berguna dalam mengembangkan budaya dan ekonomi kreatif masyarakat,” ungkapnya.

Salah satu peserta, Wahyu, siswa sekolah dasar, juga mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut.
“Wah, kami bisa jadikan lacak ini sebagai tugas prakarya di sekolah. Nanti kalau ada tugas, saya mau bikin lacak lagi,” ujarnya dengan gembira.
Peserta lain, Arief, menambahkan, “Kito bikin beda-beda model yo, ado yang Sultan Thaha, ado yang Raden Mather.”
Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya diajarkan cara membuat lacak, tetapi juga diberikan penjelasan mengenai sejarah, makna, dan nilai filosofis dari setiap motif dan model lacak oleh para dosen tim PPM. Tiga model lacak kreasi yang diajarkan antara lain Lacak Sultan Thaha, Lacak Raden Mather, dan Lacak Orang Kayo Hitam. Selain itu, juga diperkenalkan beberapa model lacak tradisional seperti Lacak Kepak Ayam Patah, Lacak Gagak Hinggap, dan Lacak Pucuk Rebung, yang biasanya digunakan dalam upacara adat.
Kegiatan ini ditutup dengan foto bersama, pemberian kenang-kenangan, serta pembagian doorprize bagi peserta yang membuat lacak tercepat dan terbaik, serta peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dari tim PPM.(*)
