4 Desa Sungai Bahar Pertahankan Seni Budaya, Tim Pengabdian Susun Infografis sebagai Upaya Pelestarian

Share

Muaro Jambi – Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Jurusan Sejarah Seni dan Arkeologi FKIP Universitas Jambi melakukan pemetaan seni budaya di Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi. Hasil pemetaan divisualisasikan menjadi infografis yang mudah dipahami.

Tim pengabdian yang terdiri dari Hanif Risa Mustafa, S.Pd., M.A., Dennys Pradita, M.A., Inda Lestari, S.Sos., M.A., Devi Itawan, M.A. (Dosen Ilmu Sejarah), Nugrahadi Mahanani, S.S., M.A. (Dosen Arkeologi), Amor Seta Gilang Pratama, S.Sn., M.Sn. (Dosen Sendratasik), dan Dwi Rahariyoso, S.S., M.A. (Dosen Sastra Indonesia) menemukan bahwa dari sebelas desa yang pernah memiliki kelompok seni tradisional, hanya empat desa yang masih mempertahankannya.

Empat desa yang masih memiliki kegiatan seni budaya tersebut meliputi Desa Bakti Mulya, Desa Berkah, Desa Bukit Makmur, dan Desa Marga Manunggal Jaya. Kegiatan seni yang bertahan adalah jathilan, campur sari, karawitan, dan hadroh.

Ketua Tim Pengabdian, Hanif, menjelaskan bahwa kesenian lokal di Sungai Bahar awalnya tumbuh sebagai bentuk hiburan bagi para transmigran.

“Pada masa awal pembukaan lahan, masyarakat tidak memiliki akses hiburan. Seni tradisi menjadi pelipur lara dan ruang berkumpul yang menyatukan warga,” ujarnya, Sabtu (3/12/2025).

Meski demikian, kata Hanif, sebagian besar aktivitas kelompok kesenian menurun karena kesibukan warga yang bekerja di perkebunan sawit serta berkurangnya minat generasi muda terhadap seni tradisi.

“Generasi sekarang lebih tertarik pada musik modern dan hiburan digital, sehingga latihan karawitan atau jaranan tidak seramai dulu,” bebernya.

Hanif menambahkan, pihaknya sebagai tim pengabdian memetakan persebaran seni budaya, dengan tujuan mendorong kembali pelestarian seni tradisi yang mulai tergerus perkembangan zaman.

“Harapannya, prototipe infografis ini bisa menjadi bahan sosialisasi dan inspirasi bagi desa untuk menghidupkan kembali aktivitas seni yang dulu pernah berkembang pesat,” tandas Hanif.(*)